Lewati navigasi

“Sepuluh tahun.” ujarku, penuh dengan hela.

Dan aku belum juga bertemu dengan rajaku.

Sepuluh tahun, penuh derita dan sia. Meski sedari sepuluh pangkat sepuluh tahun yang lalu umat terpelajar selalu menilai Teologi dan Filosofi sebagai Raja dan Ratu atas seluruh ilmu, aku terus mengurapi Matematika sebagai rajaku. Ilmu yang dasar. Tidak jumawa, malahan sering dibudaki dan dijadikan bulan-bulanan di ilmu lain. Bulan April, Maret, Mei. Tiga puluh satu-tiga puluh-tiga puluh satu, meski tanpa urut dan dengan sehari menipu, namun sepuluh tahun berlalu begitu saja, dan aku belum bertemu dengan rajaku.

Aku menyerah, menyerah menghitung semua surai kuning mentari. Rajaku tidak hadir disini.
Sepuluh tahun kutunggu dia di tahta bangsa, namun dia lebih suka diam. Diam mengamati ibu tua dengan keranjang apelnya. Diam tersenyum kepada sepetak kelinci. Diam-diam melahap kuaci dari biji bunga matahari. Dan aku masih, belum bertemu rajaku.

2 Comments

  1. ini jadi blog updated annually..
    imba tapi ni yg ini, pusing ga ngerti gw.

  2. ini lagi ngikutin zodiak yos. http://ducca.wordpress.com/konstelasi/ mumpung lagi ada niat gara2 skandal ophiuschus, lanjutin aja dah padahal udah 1 taon hiatus.

    kan lagi leo/singa, jadi temanya regal/royalti,

    ilmu manakah yang paling berkuasa?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.