Lewati navigasi

aku hendak berjalan meniti cakrawala, namun ia lari menjauh dari hadapanku. Kudekati lagi dia, namun ia terus berlari daripadaku. Maka ku berteriak, “Hoi! mau pergi kemana?” namun ia nyaman pada batas yang digarisnya; batas kekal tak terperi. Siapa akan menyangka, yang kekal menyembunyikan ketakutan yang sebegitu besarnya kepada yang sementara?

aku bertemu dengan peta dunia, bersama beban yang ditanggungnya. Namun ia tidak rela menukar beban dengan ransel yang kubawa, “memanggul langit ialah tanggunganku sebagai abdi yang abadi” tukasnya. Padahal, hati kecilku tahu, kehidupan sebagai manusia fana adalah beban yang lebih besar daripada memanggul langit dan bumi.

aku melihat mentari sedang sibuk mencumbu bulan di balik awan purba, namun mereka acuh saja. Walau untuk sekejap, cercah cinta mereka cukup untuk membuat senja menari dan laut riuh. Meski bumi panas-dingin malu mendengarnya. Dan para demonstran itu? Ah, mereka tidak tahu tentang drama kosmik ini!

aku mendengar daun gugur; lima sentimeter tiap detiknya ia jatuh, namun ia tidak tahu- secepat itulah juga manusia melupakan sesamanya. Lambat? Ya. Cepat? Tak terhenti layaknya truk tronton.

aku memegang busur warna cahaya, kubetot dan kutarik. Namun ia bersikeras diam bergeming- tidak rela melepaskan panah-panah ilahi yang sudah disumpahi selamanya tak tersentuh, memenuhi janji sejak zaman dewata dahulu.

aku mau berjalan meniti beban kehidupan ini, berani mencinta tanpa melupa, berjanji untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.