Menurut Marx, agama adalah candu bagi masyarakat. Namun rakyat Indonesia memiliki candu yang tidak kalah hebatnya: bernegara.
Cara bangsa Indonesia bernegara merupakan sesuatu yang ironis: memiliki kebanggaan & idealisme luar biasa, namun tidak memiliki keinginan untuk memajukan ataupun mengatur negara tersebut dengan baik. Saya rasa, rasa bangga luar biasa akan negri ini termasuk bagian pendidikan yang dicanangkan secara sistematis; meski tanpa dasar yang kokoh. Bayangkan, jika penulis konspirasi teori memasukkan tulisan-tulisannya sebagai sejarah negara, apa tidak lalu membuat masyarakat negara terlalu asyik terhadap hal-hal yang sifatnya sensasional? rasa bangga yang di-blow up seperti ini juga terkadang menghilangkan empati, seperti banyak kasus “ribut mulut” dengan malaysia.
Banyak negara yang mampu berjalan dan berkembang secara pragmatis dengan baik, meski tidak memiliki setitikpun idealisme dalam bernegara. Namun Indonesia adalah kebalikannya. Karena Idealisme kosong ini, kita percaya “seburuk apapun” negri ini, tetap kita menaruh harapan padanya. Tanpa tahu, yang membuat negri terpuruk tidak lain adalah Idealisme kosong tersebut! Tanpa kemampuan Pragmatis, Idealisme itu hanyalah lingkaran penipuan diri sendiri.
Mari kawan sebangsa, Dirgahayu ini bunuhlah Ratu Adil, koyakkanlah Sumpah Palapa. Hapus catatan kejayaan, buanglah banggamu! Berhentilah membohongi diri sendiri, acungkan Sang saka tinggi tinggi, dan mulailah bekerja untuk masa depan yang lebih baik.
Dirgahayu Indonesia.