Skip navigation

Menurut Marx, agama adalah candu bagi masyarakat. Namun rakyat Indonesia memiliki candu yang tidak kalah hebatnya: bernegara.
Read More »

Iklan

aku hendak berjalan meniti cakrawala, namun ia lari menjauh dari hadapanku. Kudekati lagi dia, namun ia terus berlari daripadaku. Maka ku berteriak, “Hoi! mau pergi kemana?” namun ia nyaman pada batas yang digarisnya; batas kekal tak terperi. Siapa akan menyangka, yang kekal menyembunyikan ketakutan yang sebegitu besarnya kepada yang sementara?
Read More »

“Sepuluh tahun.” ujarku, penuh dengan hela.

Dan aku belum juga bertemu dengan rajaku.

Sepuluh tahun, penuh derita dan sia. Meski sedari sepuluh pangkat sepuluh tahun yang lalu umat terpelajar selalu menilai Teologi dan Filosofi sebagai Raja dan Ratu atas seluruh ilmu, aku terus mengurapi Matematika sebagai rajaku. Ilmu yang dasar. Tidak jumawa, malahan sering dibudaki dan dijadikan bulan-bulanan di ilmu lain. Bulan April, Maret, Mei. Tiga puluh satu-tiga puluh-tiga puluh satu, meski tanpa urut dan dengan sehari menipu, namun sepuluh tahun berlalu begitu saja, dan aku belum bertemu dengan rajaku.

Aku menyerah, menyerah menghitung semua surai kuning mentari. Rajaku tidak hadir disini.
Sepuluh tahun kutunggu dia di tahta bangsa, namun dia lebih suka diam. Diam mengamati ibu tua dengan keranjang apelnya. Diam tersenyum kepada sepetak kelinci. Diam-diam melahap kuaci dari biji bunga matahari. Dan aku masih, belum bertemu rajaku.